Agama, ikatan sosial, dan apa yang terjadi hari ini

Saya yang lumayan aktif di twiter ini (meski followersnya masih bisa dihitung jari hehe) sedikitnya tahu perkembangan dan dinamika masyarakat terhadap respon suatu masalah, khususnya di dunia twitter. Informasi yang mengalir begitu cepat, se perse dalam hitungan menit bahkan detik. Jika ada informasi yang datang, apalagi isinya sensasius, tendensius, dan sedikit religius (biasanya kalimat judulnya diawali dengan kata: Astaga! Atau, heboh! Ternyata Syahrini bla bal… dll) maka sudah pasti ribuan orang atau lebih langsung terpersepsi oleh informasi itu. Bagus jika informasi nya memang sesuai fakta, namun jika hanya sekedar hoax? Yang paling mengesalkan adalah setelahnya, yaitu sesi saling hujat. Ini yang menjadi masalah dan biasanya menghabiskan waktu banyak, juga sering berakhir dengan menimbulkan perpecahan. Mulai dari komentar yang asal tanggap, asal klaim, merasa paling benar, caci sana caci sini, komen jualan, semuanya ada. Walhasil, kalimat yang keluar pun variatif. Sesi ini hanya berakhir ketika seluruh binatang di afrika dan amazon habis disebutkan. Aneh ya, padahal mereka tahunya cuma dari informasi yang tak jelas asal usulnya. Kenapa side effect nya bisa begitu besar? Selain itu mereka juga kesalahannya sering tak melakukan TABAYYUN atau klarifikasi terlebih dahulu. Padahal ini hal yang penting agar mendapat keyakinan atas benar tidaknya sebuah informasi.
 Sering saya bertemu dengan orang seperti ini tidak hanya di twitter, bahkan di kampus dan di luar kampus pun. Yang ternyata setelah ditilik, kebanyakan dari mereka memiliki isi pemikiran yang picik dan ketika mengemukakan suatu argumen pun selalu menggunakan modal: ‘katanya’
“Kata pemimpin saya yang imam dan masyhur itu bla….bla…bla” Misalnya .
 Salahsatu yang paling menonjol dari ciri kelompok ini adalah taklid buta terhadap persona, yang merupakan bentuk kebenaran tak terelakkan. Namun saya tidak bisa menyalahkan mereka atas apa yang mereka yakini, karena mungkin mereka lahir dan dibesarkan dari lingkungan seperti itu, yang menyebabkan pemikiran yang terbentuk juga memiliki karakteristik yang mirip. Selain itu, mereka selalu dididik untuk mengikuti setiap tindakan dan alur dari pemikiran kelompoknya tanpa ada kemungkinan untuk mendobrak itu semua. Mereka tak pernah berani untuk melewati garis yang telah diberikan batasan, karena sekali melewati garis, maka genap sudah mereka di cap sebagai penghianat. Padahal kritik dan autokritik adalah sesuatu yang menyehatkan di setiap kelompok manapun berada. Karena bisa memperbarui nilai nilai yang kiranya sudah tak relevan untuk diterapkan. Selain itu, juga membuat sesorang untuk bersifat lebih terbuka pada hal baru. Ketakterbukaan, sifat ortodoksi, menentang kebaruan, dan memaha benarkan setiap tindakan pemimpin mereka, adalah komponen yang sempurna untuk membentuk basis masyarakat yang anti perbedaan dan anti adanya kelompok eksis lain yang berbeda pemahaman. Ini sebuah preseden buruk bagi demokrasi kita!
 Namun yang perlu dicatat adalah: meskipun begitu, mereka itu ternyata sangat kompak dan toleran pada orang dalam lingkaran kelompoknya sendiri bahkan dalam hal apapun. Isitilahnya senasib sepenanggungan.
Nah, setelah ditelisik ternyata ini sesuai dengan apa yang saya baca di Protestan Ethicnya Weber, ketika menjelaskan tentang kelompok puritan dan kritiknya terhadap faham Calvinisme pada abad 18. Dalam hipotesisnya doi mengatakan: ketika suatu kelompok memiliki tingkat kepedulian yang tinggi dan ikatan sosial yang erat pada kelompoknya, maka biasanya selalu berbanding berbalik pada kelompok yang berada diluarnya. Mereka cenderung menjadi intoleran, dan gampang melakukan kekerasan. Namun, ketika suatu kelompok mempunyai ikatan yang renggang dan tak terlalu erat dengan kelompoknya, biasanya tingkat acceptan pada kelompok yang diluarnya lebih tinggi dan mudah. Dan pernyataan Weber ini tebukti sekarang.
Salahsatu dari alat pengikat ini adalah agama. Terbukti dari zaman ke zaman, agama adalah politik dan senjata paling ampuh untuk menyatukan kelompok atau sebaliknya. Ingat ketika Ratu Elizabeth mengeluarkan kebijakan pengusiran Yahudi ditanah eropa, lalu pernyataan Galileo yang membuatnya dihukum mati karena menentang gereja tentang peredaran bumi mengelilingi matahari, atau perang salib yang menghabiskan 400 tahun peperangan tak usai, dan masih banyak lagi. Agama selau mendominasi disetiap praktik sejarah yang terjadi. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa agama? Pernah sekali Marx menulis didalam bukunya bahwa agama itu candu. Well, karena memang, apa hal yang tak pernah dilakukan manusia atas nama agama? Membunuh, berderma, berperang, berbelas kasih, mengamuk, sabar, mencuri, memberi, semuanya pernah. Dan oleh sebab semua hal kontradiktif ini ada dan pernah dilakukan atas nama, sekali lagi agama. Maka apakah agama juga memberi pengertian yang sedari awal memang kontradiktif? Ah.
Namun, hemat saya jika diteruskan obrolan tulisan ini bakalan tak selesai-selesai, dan cenderung seolah menjadi obrolan seorang kurang ajar. Karena ujung ujungnya bakal kebahas juga tuh filsafst pragmatisme sama eksistensialisme nya Kierkegard, dan ane gamau pusing pusing lagi mikirin nulis kaya gituan.   Apalagi saya hanya berniat untuk menulisnya sepanjang tulisan essai biasa saja.
Maka tak usah basa basi langsung saja saya katakan inti kesimpulannya bahwa… permasalahan yang terjadi belangan ini, isu memanasnya situasi sosial di masyarakat, dan aliran-aliran ektremes dari kelompok tertentu yang selalu memprovokasi, bisa dikatakan bahwa sepertinya semua hal ini terjadi karena kurangnya satu hal simple saja. Yaitu kurang ngopi. Iya. Padahal dengan kopi toh permasalahan apa yang tidak pernah terselesaikan?
Yasudah, sekarang mah perbanyak ngopi barang segelas dua gelas, rempugkan bersama, lalu selesaikan dengan baik-baik inti permasalahan, apalagi jika ngopinya ditambah setengah bungkus garpit, tak terlalu buruk bukan?