Selasa
empat belas tujuh belas
Aku
pikir hari itu, merupakan hari yang stabil dan nyaman karena perasaanku
diliputi oleh berbagai ketenangan hati, namun namanya masa depan memang tak
bisa diprediksi. Karena ternyata ketenangan yang aku dapat, adalah ketenangan
sebelum badai datang. Paginya aku bercanda sama keluarga, quality time, dan
kukira bakal melewati hari ini dengan kisah yang sempuran berhaha hihi, eh
sore-sore nya udah dibikin dongkol aja sama sekumpulan anak anak yang… oke aku
akui memang sedikit keterlaluan. Kenapa?
Jadi ceritanya aku sama mereka sore
itu sudah janji untuk melakukan rapat pertemuan yang rencananya membahas
beberapa hal strategis program kerja yang belum terlaksana. Sebenarnya aku
sangat malas sekali karena waktu itu hari sudah mendung dan jarak rumah ke
kampus lumayan jauh, dengan memakan 1 jam perjalanan. Namun karena sudah
terlanjur membuat janji terlebih karena aku yang jadi ketuanya, berangkatlah aku dengan membawa segenap asa(asik). Tapi apa
daya, setelah melewati perjalanan yang melelahkan, setibanya ditempat, tiba
tiba semuanya gabisa dihubungi. Ada yang bisa tapi malah meminta rapatnya diundur.
Lah? Terus aku yang jauh jauh datang dari rumah ini nasibnya gimana? Sebenernya
in bukan yang pertama kali nya, ini merupakan jadwal yang diundur yang sudah ke
3 kali nya. Jadi sebenernya rencana rapat pertama itu di 3 minggu sebelumnya,
namun karena kendala teknis diundur teruus sampe sekarang -_-
Oke
namun aku gak naif dan tidak mengatakan mereka gak profesional tanpa terlebih
dahulu tahu sebabnya, maksudnya, aku coba bedah pake pisau analisis (edaaan
pisau analisis) alasan dan penyebab mereka kelakuannya kaya gini. Dan ternyata…jeng
jeng jeng…alasannya sederhana, marginal utilitas mereka terhadap kegiatan
organisasi sedang berada dititik negative. Hah? Marginal utilitas? Iyaaa…gimana
ya, simpelnya mah pengertian marginal utilitas itu adalah kepuasan marjinal
yang semakin berkurang jika semakin banyak frekuensi kegiatan sama yang kamu
lakukan. Atau contohnya gini, kalo kamu minum air ketika haus, maka
utilitas/kepuasannya yang kamu rasakan pasti besar dan jika diasumsikan
misalnya memiliki nilainya 10. Namun apakah nilai 10 tersebut berlaku untuk
gelas ke 2 atau ke 3 bahkan ke 4 yang kamu minum? Tentu tidak, pasti
kepuasaannya akan semakin berkurang, dan
jika treus dilanjutkan akan sampai di titik negatif. Yaiyalah, minum air sampe
gelas ke 15, yang didapatkan bukan lagi kepuasaan, malah sakit perut. Nah
mungkin anak anak juga begitu. Terlalu seringnya kegiatan yang mereka lakukan
pada organisasi membuat marjinal ulititas mereka negatif. Lalu solusinya
gimana? Yaa…sila beri mereka waktu rehat sekitar 2 minggu an untuk melakukan
kegiatan lain, agar marjinal utilitas dari organisasi kembali ke titik normal. Lalu
disaat utilitasnya sudah balik, disanalah saatnya aku beraksi!! Whammmm!!