Aku
merupakan salahsatu orang yang beruntung karena diberi kesempatan bisa sekolah
hingga perguruan tinggi. Meskipun sebenarnya penghasilan orangtuaku bisa
dibilang pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, karena kadang bekalku
dalam sebulan dikurangi, kadang pas, dan jarang lebih. Yaaa… meskipun
terseok-seok, namun alhamdulillah sampai hari ini aku masih diberi kelancaran
oleh Allah SWT. Eniwei, tapi sekarang bukan itu mau bahas. Yang ingin aku bahas
adalah tentang betapa konservatif nya orang tua pada apa yang mereka kerjakan,
yang sebenarnya menurut perhitungan matematis maupun ekonomis salah. Dan jujur,
kalo aku ngomong gini teh suka serba salah sekaligus gereget.
Jadi
gini, pekerjaan ayahku adalah wiraswasta di sebuah pabrik minuman jamu sachet.
Sedangkan Ibuku membuka warung kecil-kecilan dirumah. Nah, ibuku ini selain
membuka warung juga membuat gorengan semacam bala-bala, gehu, pisang goreng
dll. Sebenarnya udah lama sih aku menyadari bahwa sepertinya ada yang salah
pada pekerjaan ibuku, terutama pada bagian membuat gorengan. Setiap hari beliau
bisa membuat rata-rata 80 buah gorengan yang disebar di 3 warung, karena jika
hanya mengandalkan warung rumah saja takkan mencukupi. Namun yang menjadi masalah
adalah pada harga yang diberikan ibu kepada pemilik warung lain adalah 400-
rupiah perbuah, yang setelah aku hitung hitung ternyata berada dibawah average
cost nya. Karena aku adalah mahasiswa jurusan hukum ekonomi, tentu pengetahuanku
dibanding ibuku tentang marginal cost, dan lain sebagainya yang
menyangkut tentang biaya produksi lebih mumpuni. Seenggaknya laah. Harap maklum
Ibuku hanya tamatan SD. Ya
kuterangkanlah dengan segala kerendahan hati kepada beliau bahwa harga yang
beliau tawarkan itu alih alih untung malah rugi. Sebenarnya dalam perhitunganku
ada kemungkinan dengan harga 400- itu bisa menuai keuntungan, namun dengan
syarat penjualan yang beliau mesti habiskan setiap harinya harus lebih dari 140
gorengan atau dengan kata lain melewati BEP.
Namun
setelah kuterangkan dengan seterang terangnya, sampai lampu Philip LED pun
kalah ya namanya orangtua, ternyata susah untuk mencari penjelasan paling masuk
akal yang menjadi ‘standar’ orangtua. Beliau tidak mengerti jika kujelaskan
tentang konsep biaya apalagi marginal cost dan segala tetek bengeknya, ditambah
jika menjelaskan gorengan merupakan ketegori barang dari pasar persaingan
sempurna yang mempunyai kurva….. ah sudahlah. Disisi lain jika kupaksa agar
menuruti kehendakku, takut kualat, kubiarkan saja, takut durhaka, mau kubantu
mencari pasar konsumen lain, jauh karena aku tinggal di kost. Pernah sekali waktu
ketika aku pulang, dengan sengaja menuliskan coret-coret perhitungan dikertas
besar, di dapur tempat ibu biasanya mask. Besoknya aku mau berangkat kertas itu
malah dijadikan bungkus gorengan.
Aku
tak tahu mana yang sebenarnya mesti aku lakukan. Pekerjaan ini sudah beliau
tekuni dari sejak aku masih kecil dan unyu unyu nya umur 6-7 tahun sampai sekarang sudah umur 20 tahun, namun dengan harga yang masih sama! Bisa
diperkirakan jika inflasi rata-rata 4% pertahun. Dengan umurku yang sudah
menginjak 20 tahun, maka 4% x 13 tahun = 52%. Maka seharusnya harga yang Ibuku
tetapkan berkisar antara Rp. 600- perbuahnya atau bertambah setengahnya dari
harga 400 . Tentu ini sangat sesuai dengan warung-warung lain yang sudah
menjual gorengannya dengan harga 2000 untuk 3 gorengan. Namun ibuku tetap
ngotot dengan alasan konservatifnya bahwa jika harga di naikan maka takut akan
kehilangan konsumennya. Ya itu wajarlah ya, karena ada hukum elastisitas harga
yang bermain. Namun menurutku justru tidak ada apa mengurangi sedekit penjualan
jika disetiap buah gorengan yang ibu jual sudah ada untung yang didapatkan tanpa
perlu menunggu BEP 140 buah terjual habis dulu. Ya kan? Iya lah. Selain itu,
gorengan juga merupakan barang yang sangat likuid, bahkan dalam hitungan jam.
Dingin sedikit saja, maka akan mengurangi rasa nikmat dari gorengan itu
sendiri. Maka sangat sering sekali terjadi ada gorengan yang tak habis berakhir
menjadi santapan ayam dibelakang rumah.
Sekian
dulu deh malem ini.