Cuaca masih gelap dan
waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Loh, ko jam 6 tapi cacanya masih gelap?
Iya, awan yang menggelayut di belahan bumi bandung menutupi tempat matahari
semestinya terbit. Selain itu warnanya juga kelam, pertanda hujan akan turun.
Dan benar, tak lama kemudian lamat-lamat hujan mulai menggericik menetes ke
tanah yang sedang dipijak. Aku yang sudah memanaskan motor, siap untuk
berangkat ke pasar baru pun mengurungkan niatnya. Niat mah sih tidak urung,
cuman ga jadi aja. Mengingat orang-orang juga sepertinya tidak banyak yang akan
melakukan aktivitasnya jika cuaca seperti ini. Well, tak banyak uang yang bakal
aku dapet hari ini. Jadi daripada menghamburkan tenaga, berdiam diri dirumah
dan sejenak memanjakan diri merupakan pilihan yang paling tepat.
Lalu ada beberapa hal
yang dilakukan setelah itu, dan pasti juga juga oleh banyak orang. Perhatikan
step nya: duduk di kursi tamu, hidupkan data, kemudian bermain main di dunia
virtual dan akhirnya lupa dunia sekitar. Am I Right? Dilanjut dengan mengecek
notice dari obrolan yang tak sempat dibalas tadi malam dan kemudian membalasnya
satu satu, ada juga yang memulainya dengan ber-say hello; kepada gebetan yang
sebenarnya sudah milik orang lain, atau sekedar membuat status yang sungguh
sebenarnya tidak perlu seperti: “Hujan hujan gini enaknya tuh ngopi, selamat
pagi” bagi orang yang maskulin, atau jika orang nya sedikit alay “Pagi all.
Duh, hari minggu pagi, hujan lagi. Hmmm enaknya ngapain ya” jika orangnya
religius “Hujan adalah rahmat Allah, Allahumma Soyyiban nafian” disertai notice
like and share lalu ketik amin.
Yah, kemajuan
teknologi memang sedikit banyak membuat orang yang waras di dunia nyata menjadi
sinting di dunia maya. Namun sedikit kucermati dan kusadari bahwa, ternyata
dunia maya merupakan sebuah buku yang terbuka, yang menginformasikan kepada
khalayak tentang seseorang secara terbuka dari status dan tulisan tulisan yang
mereka tuangkan. Misalnya seorang professor jebolan amerika yang biasanya
bersikap jaim dan menjaga harkat serta martabatnya dihadapan para kolega, tak
jarang justru merendahkan dirinya sendiri di dunia maya. Begitu pula dengan
seseorang yang kehidupan sehari-harinya melakukan kegiatan judi buntut, sabung
ayam, dan perilaku tak patut lainnya yang jauh dari tuntunan baginda Nabi
Muhammad SAW, namun ketika di dumay, aktivitas yang dilakukan justru selalu men
share status dari fanpage Indahnya Islam dan Nikah Dini itu Berkah, status yang
ditulis pun juga tentang curahan yang dipenuhi dengan tatakrama nan sopan
santun, bahkan ketika mau melakukan komen saja, selalu didahului dengan
ungkapan salam yang menyejukkan nan membuat merinding orang yang membacanya.
Ada yang seperti ini? Banyak.
Koeksistensi
adanya dumay menjadikan masyarakat menjadi serba bermuka dua. Itu setidaknya
yang aku pikir. Tidak tidak, malahan lebih. Maka untuk lebih mengenal dan
berteman seseorang pun rasanya sangat kompleks jika dibandingkan dahulu. Karena
informasinya begitu terbuka tak jarang membuat seseorang gampang menaruh curiga
pada temannya. Misalnya ketika temannya membuat status dan ternyata ketika
membacanya seolah menyindir, padahal sebenarnya status itu ditujukan bagi orang
lain, rasa curiga pun timbul, kemudian dilanjutkan dengan dengki, dan akhirnya
adalah permusuhan. Hal begini sudah lumrah terjadi.
Memang, dumay
membuat informasi yang kita dapatkan semakin banyak yang justru membantu kita
ketika mempertimbangkan sesuatu secara serampangan. Bahkan di dalam ilmu
ekonomi, informasi itu sangat penting agar tidak terjadi inefisiensi. Ketika
informasi yang diterima semakin banyak, maka keputusan yang diambil pun relatif
akan lebih mudah dilakukan. Namun yang perlu dicermati adalah, informasi yang
banyak belumlah tentu merupakan sebuah infomasi yang lengkap pula. Karena
banyak tak lantas menunjukkan lengkap tidak nya sebuah data. Ada yang mesti
kita pilah dan analisis terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan.
Selain itu,
kebanyakan orang membuat status di dunia itu karena dilatari oleh konteks yang
sedang dialami. Misalnya sedang makan, lalu update tentang makan, nonton
bioskop, lalu updet tentang bioskop dan seterusnya. Bahkan untuk curhat pun,
itu pasti dilatari dalam dalam konteks tertentu. Dari sisi ini saja sebenarnya
sudah dapat diketahui bahwa menyimpulkan secara serampangan terhadap status
yang orang lain tulis merupakan perilaku yang tidak objektiv. Emangnya kita
tahu apa yang benar-benar mereka rasakan atas apa yang dijadikan status itu?
Apakah kita juga kecipratan pengalaman yang mereka rasakan? Tidak kan. Kita
hanya tahu itu dari status yang mereka buat. Itu saja. Tidak lebih! Seseorang
tak lantas menjadi seperti apa yang kita persepsikan. Karena informasi yang
kita terima juga tidak berimbang, berdasarkan penilaian satu pihak semata tanpa
disertai dengan klarifikasi. Namun begitulah kenyataan sekarang, kita menilai
dari apa yang mereka tulis tanpa mengetahui makna yang sesungguhnya ingin
mereka sampaikan. Ada sesuatu yang asimetris antara realitas dan dunia virtual,
ada gap antara persepsi kita dengan pengalaman mereka, ada kesalahpahaman yang
terus menerus dikapitalisasi, dan ada pelangi di bola matamu.
Maka mengapa
mesti menghakimi jika tidak mengetahui penyebab pastinya? Mengapa mesti
curiga atas dasar informasi yang sebenarnya tidak utuh? Mari kita menjadi
generasi yang cerdas dan berfikir holistic, dengan tak mudah tersulut
berdasarkan informasi yang tidak utuh.
Salam perdamaian.