senyuman satu juta voltase



Aku tidak tahu apa yang menggerakkan tanganku mengetik di keyboard, yang jelas aku selalu tertipu ketika melihat sebuah foto yang menunjukkan keindahanmu, sebuah magnet yang mempunyai satu kutub, yang tepat, diantara dua bilah garis bibir yang melekuk itu yang menjadi pusatnya. Simpul yang terlihat lesung pipit dan menghantarkan tegangan listrik setiap yang melihatnya. Termasuk aku, yang kini sedang tergeletak tak berdaya terhisap gravitasi daya Tarik dirimu.
                Aku berani bertaruh bahwa kamu tak pernah sekalipun tahu ada seseorang yang selalu mengintip albummu, melihat satu persatu dari gaya yang kamu bawakan di depan kamera. Meskipun 95% aku tahu bahwa dari hasil jepretan itu telah terotomatisasi untuk diatur sedemikian rupa agar terlihat cantik. Namun aku berani bertaruh juga, tanpa kamera jenis apapun kamu tetaplah kamu dengan segala warna indah yang telah tuhan tuangkan kepadamu. Karena aku tahu dirimu dan mengenal sifat serta segala rupa tingkah polah yang membentukmu sampai sekarang.
                Sayangnya aku bukan ahli kimia, dan tak pernah bisa tahu susunan sel dan materi yang membentuk senyummu hingga bisa sedemikian rupa. Aku hanya mahasiswa ekonomi yang sedikit tahu matematika, rumus bunga dan regresi. Menurut penghitunganku, dengan spesialisasi di bidang ekonomi, jika saja ada satu juta senyuman yang persis sepertimu di negeri ini, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat secara signifikan. Alasannya sederhana, setiap orang yang melihat senyummu akan membuat mereka tak betah untuk berdiam diri dan berleha-leha, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memapankan diri dan bekerja lebih keras. Secara agregat, hal ini tentu akan meningkatkan produktivitas yang akhirnya akan meningkatkan GDP nasional. Mengapa demikian? Ya karena melihatmu tersenyum itu merupakan bentuk lain dari kata ingin menafkahi. Terlalu berlebihan, tapi begitulah yang kurasakan kini.
                Kamu tak tahu, bahwa aku mengetik ini sambil tersenyum-senyum bodoh dan memandangi wajahmu yang mohon maaf aku tak minta izin terlebih dahulu, aku download dari albummu. Tak henti-henti, aku jujur jika inspirasi menulis terus mengalir setiap memandangimu, kata perkata yang tertuang yang membentuknya kalimat, tak satupun yang aku ketik hapus ketika hapus seperti biasanya. Beda ya rasanya, jika menulis dengan hati?
Salam,
Dari aku yang memandangimu di kejauhan