waktu yang terbuang:telaah dari buku yang dibaca disela bolos kuliah

Kemarin adalah hari dimana matahari bersembunyi malas di dekapan awan. Ia yang malu-malu akhirnya hanya membuat suhu di sepanjang hari turun beberapa derajat. Karenanya, perilaku buruk matahari demikian itu, membuatku untuk ikut-ikutan, berdiam dirumah dan membolos kuliah. Sebenarnya bukan hanya karena cuaca, alasanku tidak kuliah hari ini. Aku sedikit demam dan tak enak badan. Yan namanya demam, tak ada rasa kenyamanan, bahkan untuk sekedar bertegur sama dengan air di bak mandi. Disisi lain air bak juga menunjukkan temperature yang lebih rendah dari kemarin. Aku tak mau memaksakan tubuhky yang lemah ini(red:demam) berjibaku dengan kerasnya air bak. Hhiih. Maka, ada sebuah kombinasi yang terbangun antara kondisi alam yang sedang terjadi, fisik yang sedang aku rasakan, dan bak mandi. Kombinasi yang membuat kesimpulan: untuk hari ini, jangan kuliah!. Tuhan maha baik rupanya. Sehingga ibuku pun tak punya alasan untuk mengomel padaku yang tak berkuliah itu. Madu.

            Bagiku yang tidak terbiasa menghabiskan sepanjang waktu dengan bersantai ria dengan hanya nonton tv dan tiduran membuat cepat bosan. Aku pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah nenek yang jaraknya lumayan dekat dengan rumahku. Disana seperti biasa aku selalu bisa menjelma menjadi seekor anak kucing yang bertabiat baik dan sedikit manja dihadapan nenek bisa dibilang aku adalah cucu kesayangannya. Lalu setelah bercengkrama ini itu kulihat di lemari tengah ada sekumpulan buku. Kupikir daripada bosan aku lihat-lihat dan membacanya—meskipun sebenarnya dirumah juga aku mempunyai banyak buku, namun semuanya sudah habis kubaca. Disana aku menemukan sebuah buku yang berjudul “dapat apa sih dari kuliah?” karena penasaran aku pun mencoba membacanya dan ternyata lumayan asyik. Isinya tentang pengalaman seorang mahasiswa yang mendapatkan beasiswa S1 ke jepang.
Namun yang membuatku tertarik untuk terus membacanya bukanlah karena ada kisah dan suka duka yang pernah dialaminya, bukan pula tentang keberhasilan dan capaian apa yang telah ia dapatkan. Namun apa yang menjadi pola dan aktivitas rutinan yang ia biasakan sejak dari SMA dan katanya sampai sekarang. Yaitu tidur yang setiap harinya 4 jam setiap hari! Maka yang kubayangkan adalah selama ini ia tidur rata-rata jam 12 malam dan bangun pada pukul 4, dan tidur lagi jam 12 malam selanjutnya. Sungguh luar biasa pikirku. Ia dengan lugas mengatakan bahwa rutinitas itu ia lakukan bukan tanpa hambatan. Awal awal ia sempat kesulitan dan merasa kurang tidur karena pola yang ia terapkan itu. Tapi lama-lama menjadi sebuah kebiasaan juga. Lalu kegiatan yang ia lakukan juga di menej dengan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga jarang ada dalam satu hari waktu yang dilakukan dengan percuma. Ah! Akhirnya sekarang ia bisa rasakan hasilnya. Meskipun aku tahu bahwa yaa tentang menejemen waktu, kerja keras dan bla bal lain sebagainya merupakan hal yang basi ditulis di buku buku motivasi pada umumnya. Namun di buku itu, beserta pembawaan yang ia tuturkan disertai pengalaman membuat aku lebih tersadar bahwa……. Untuk jadi berhasil dikemudian hari itu memang berasal dari buah yang kita tanam dari sejak dini.
Walhasil karena saking asyiknya, buku itu pun hanya ludes aku tamatkan dalam rentang waktu 3 jam kurang lebih. Well…
Setelah membaca buku itu, lekas membuatku serasa ingin menangis dan mengutuk diri. Sebuah pertanyaan kemudian hinggap. Berapa jam dari satu hari waktu yang kuhabiskan untuk melakukan kegiatan yang efektiv dan bermanfaat? Mengapa setiap ada waktu luang selalu aku gunakan untuk berponsel ria, padahal pacar pun aku tak punya? Lalu bisakah kutarik kembali setiap mili detik yang telah kulewatkan bahkan ketika aku menulis ini?
 Ya allah betapa aku merupakan bagian dari golongan yang dzalim dalam menggunakan waktu. Begitu banyak waktu yang kuhabiskan hanya untuk bersantai. Bahkan sampai lupa waktu tak tahunya sudah satu atau dua jam aku menungkuli layar hp, atau nonton film. Kegiatan begini ini tidak hanya terjadi pada diriku saja. Kemungkinannya banyak sekali remaja yang lebih parah dariku dari yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal hal tak bermutu. Sedangkan remaja negara lain sibuk mempersiapkan kapasitas skill, intelegensi dan mentalnya untuk bersaing secara global, mempersiapkan produk yang bisa mendunia. Remaja disini(khususnya saya) malah sibuk dengan hiruk pikuk dan hingar bingarnya layar smartphone. Disini saya prihatin. Padahal di Jepang sana, menurut buku itu, orang-orangnya begitu menghargai waktu. Satu menit berlalu, mereka gunakan dengan sebaik mungkin bahkan tanpa cacat. Di sana, kau bisa melihat masyarakat muslim yang beragama Shinto! Bahkan agama pun sudah menegaskan dengan tegas, didalam alquran. Bahwa Allah dengan tegas bersumpah atas nama waktu. Ini menunjukkan betapa waktu sangat sangat sangat sangat berharga. Ckckck.