Pelajaran hidup kadang didapatkan dalam
sebuah obrolan kecil diwarung kecil sehabis isya, dengan seorang kakek sepuh
yang berbicara ngobrol tak jelas, dengan gorengan hangat dan secangkir kopi
yang menemani. Kadang pula hanya datang dari seseorang yang bahkan perkalian 7
pun tidak tamat. Bentuknya bisa berupa nasihat, curhatan, atau anjuran yang
mencerahkan.Bukannya disebuah ruangan terbuka, digedung pencakar ber AC, atau
di seminar seminar yang diisi oleh tokoh nasional, yang ramai, hingar bingar
banyak orang dan mewah.
Entah kenapa, malah banyak orang yang
berputar haluan hidupnya, gegara pelajaran hidup model seperti ini. Seorang PNS yang galau karena hidupnya dililit
tagihan kredit akibat terlena oleh macam barang olahraga antic yang ditawarkan
di televisi, sementara gaji bulanannya
pun tak cukup untuk membiayai anak dan istrinya, akhirnya ia kekurangan
likuiditas yang membuatnya menjual seluruh isi rumahnya. Lalu ia bertemu tukang
sol sepatu dan hidupnya pun berubah setelah pertemuan itu. Perihal apa yang
dibicarakan dan apa yang membuatnya berubah jangan Tanya aku, karena aku tak
tahu apa-apa. Ini hanya contoh saja. Lalu seorang yang dianggap bodoh
disekolahnya, 40 tahun belajar, namun hanya bisa merapal bismillah saja,
karena melihat sebuah batu yang biasa ia lewati berlubang gara-gara tetesan air
diatasnya, ia pun semangat kembali, dan akhirnya tak perlu waktu lama menjadi
ulama besar. Banyak lagi kejadian serupa diatas dan mungkin kalian juga pernah
merasakannya.
Namun begitulah pelajaran hidup merubah
nasib seseorang. Tak bisa diprediksi dengan sejumlah perhitungan matematis.
Meskipun menggunakan rumus regresi yang biasa dipakai para ekonom untuk
memprediksi kondisi ekonomi dimasa mendatang, tapi nasib tidak sesederhana
rumus regresi. Ada campuran rumus lain dari sang maha untuk bisa merubah hidup
seseorang bahkan gara-gara hal yang sepele sekalipun. Kalo bahasa Qur’an nya
Kun fayakun! Jadilah, maka jadilah. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan pencipta
alam. Segalanya bisa
Yang menjadi masalah adalah, apakah ada
prasyarat khusus, dan dalam situasi dan kondisi bagaimana, seseorang bisa
mendapatkan pelajaran hidup. Menurut sepengetahuanku, bahwa kondisi itu terjadi
bilaman seseorang sudah berusaha sekeras mungkin, dan hampir menemui titik
buntu dimana akhirnya ia menyerah. Namun jawabannya bisa rupa-rupa. Kadang ada
pula sebuah pelajaran hidup yang datang awal, mengingatkan kita untuk berubah
menjadi lebih baik. Ada.
Sore tadi, sehabis me retur buku yang
tidak terjual kepada si bos. Sebelum pulang saya sempat berbincang dirumahnya.
Dalam perbincangan itu, meskipun kebanyakan berisi candaan dan gurauan yang
menghibur, namun disela sela ada beberapa kata yang, mungkin jauh ya kali
disebut pelajaran hidup mah, kutangkap dan memberiku motivasi untuk tidak berleha-leha
memanfaatkan waktu kuliah. Meskipun terlihat lucu, namun ini bisa dibilang
merupakan bentuk nasihat yang cocok untuk kalangan muda sepertiku. Misalnya, si
bos tadi bilang:
“Ayna mah fokus hela weh usaha, tong
waka loba gaya. Sing loba duit hela, percuma boga benget te boga duit mah,
dijien kekesed ku awewe ge. Sok tingali, loba aynamah gening nu bobogohan awewe
na gelis tapi lalakina siga bangkong. Tapi mun mun ningali kandaraanna uuhh…
sedan. Pan kitu aynamah”. Aku pun hanya tertawa mendengar ocehannya.
Jika bahasa Indonesia kurang lebih
maksudnya seperti ini
“Sekarang mah fokus dulu untuk usaha,
jangan dulu banyak gaya. Harus banyak uang dulu, percuma punya muka tapi nggak
punya uang, sama wanita juga dijadiin tempat kesed kaki. Coba lihat, sekarang
banyak yang pacaran wanitanya cantik, tapi laki-lakinya mirip katak. Tapi jika
lihat kendaraan yang ia pakai, uh sedan. Sekarang kan gitu.”
Meskipun isi yang ia ucapkan adalah
membahas hal yang menurutku kurang bisa dijadikan pelajaran hidup, namun maksud
dari pembicaraannya, tidak hanya sekedar agar kita mesti berusaha keseras
mungkin agar banyak uang lalu mendapatkan wanita cantik. Tidak, tidak sedangkal
itu maksud pembicaraan diatas. Namun jika kalian mengikutinya dari awal, kalian
akan memahami bahwa maksudnya adalah bahwa di zaman sekarang banyak anak-anak
yang belum punya apa apa sudah gaya, padahal usaha nol dan ilmu pun juga
dangkal. Banyak yang hanya menonjolkan sisi kekerenan yang mereka miliki,
padahal itu juga dari uang yang masih minta orang tua.
Aku pun terhenyak, ketika mendapati
candaan yang ia lontarkan. Begitu mengena, dan aku langsung menyadari bahwa
waktu kuliahku sudah tidak banyak lagi, tinggal 2 semester dan akhirnya lulus,
menyandang gelar. Sementara itu masih banyak PR yang belum kukerjakan. Aku
kurang berusaha. Aku kurang mendarah-darah kan diriku di medan perjuangan 2
tahun kebelakang, untuk mencapai kesuksesan, sampai akhirnya tuhan memberiku
pelajaran, di waktu sebelum semuanya terlambat disela obrolan ku dengan si bos.
Kini aku hanya perlu menulis kembali apa yang aku cita-citakan ketika SMA dulu, yaitu kuliah di Sorbone, menulisnya
kembali tidak hanya didalam catatan, tetapi dalam keseharian kegiatanku.
Kutulis
sebuah memo di kertas kerja, menarik garis start ke garis finish, membayangkan
bahwa ternyata belum dari semua usahaku
selama yang setengahnya saja, untuk mencapai garis finish.
Cipadung, 14
Januari 2017