Dalam
sebuah buku yang sedang aku baca berjudul Trust, karya dari seorang yang pernah
menulis buku monumental The Last Man and the End of History, atau kita
sebut saja namanya, Francis Fukuyama. Buku yang menjelaskan tentang kebajikan
social dan penciptaan kemakmuran. Aku menemukan sebuah pemahaman dari sejak bab
pertama membaca isi dari buku itu, yang menjelaskan tentang sedikit kelemahan
dari model ekonomi yang selama ini kita anut, yaitu bahwa setiap manusia dalam
melakukan kegiatan ekonomi nya, selalu di motivasi oleh swa kepentingan(self
interest). Gagasan pertamanya dalam buku ini menerangkan tentang kritikannya pada para ekonom yang menganggap bahwa manusia, dalam kapasitasnya dalam mengejar
kepentingan pribadi akan selalu memaksimalkan utilitas yang mereka dapatkan
dengan cara memperanyak kekayaan yang mereka kumpulkan. Entah, tapi didalam
buku-buku teks ekonomi manapun, gagasan ini seolah menjadi postulat utama dan
menjadi design dari teori-teori turunannya. Manusia manapun, menurut anggapan
ini akan bertindak secara rasional. Tindakan rasional yang selalu
dikalkulasikan dengan untung rugi. Intinya manusia rasional adalah manusia yang
selalu ingin untung, sedangkan irasional sebaliknya.
Meskipun
ada benarnya, namun anggapan ini bukanlah sesuatu yang mutlak, dengan kata lain
ada hal-hal lain selain aspek utility maximizer yang menjadi motiv
manusia untuk bertindak. Adakalanya seseorang dengan rela melepaskan jabatan
tingginya di kantor agar bisa hidup tenang memandangi alam pedesaan yang indah,
menikmati udara yang sejuk dan bersih jauh dari hingar bingar perkotaan.
Perilaku ini menjadikan ada blind spot atau titik lemah dalam anggapan para ekonom terutama
yang bermadzhab neoklasik tentang gagasan maximizer, untuk menutupinya
mereka pun mereka berargumen dengan memperluas konsep utiltas yang mereka
gunakan. Bahwa utilitas tidaklah terbatas pada hal-hal yang bersifat materi,
mereka kemudian mengembangkan teoirnya dengan menyerahkan utilitas pada
preferensi individu. Ketika ada seseorang yang lebih menyukai menulis buku
padahal ia mempunyai kesempatan menjadi jutawan disebuah perusahaan, hal itu
bukan dikarenakan seseorang itu bertindak irasional, namun karena menurut
preferensinya, utilitas menjadi penulis lebih besar dari uang yang akan
didapatkannya ketika menjadi jutawan disebuah perusahaan. Para ekonom selalu
bisa mencari celah dari setiap kelemahanya. I see.
Didalam
bukunya, Francis menerangkan bahwa perilaku ekonomi tidaklah bergerak didalam
ruang yang vakum. Artinya pendasaran
tindakan ekonomi hanya berdasarkan kalkulasi dan preferensi individu saja
tidaklah cukup. Tindakan ekonomi sejatinya terintegrasi dengan kultur dan
budaya dan nilai yang tertancap di masyarakat setempat. Ketika kita memukul
rata dan membuat sebuah kebijakan publik yang tanpa adanya proses penelitian
tentang kebudayaan dan nilai yang ada di masyarakat. Kemungkinan besar
kebijakan yang kita terapkan akan gagal terlaksana.
Ia
mengatakan bahwa kebenaran teori yang dipaparkan para ekonom hampir 80% nya
mendekati kebenaran, lalu apa 20% nya? Ia menjawab bahwa itu adalah kultur
masyarakat. Pembahasannya dimulai dari adanya perbedaan sistem sosial yang
terbangun disetiap negara. Di Cina
keluarga menjadi banteng utama dalam kendali kepercayaan dan sebuah bisnis, di
jepang hal seperti itu tidaklah demikian, begitu pula dengan prancis, jerman
dan negara lainnya. Maka ketika pola kultur social masyarakat itu berbeda pada
masing-masing kapasitasnya, akan membuat sistem jaringan bisnis yang terbangun
juga sedikit banyak berbeda. Di Cina jaringan bisnis di dominasi oleh
orang-orang yang masih mempunyai kekerabatan. Trust yang terbangun di Cina ini
bersifat Familistik, atau kalau kata Fukuyama kita sebut dengan masyarakat yang
Low Trust. Selain itu kerangka kerja
yang terbangun didalam jarinan organisasi bisnis juga bersifat administrik,
serba aturan dan menanggap bahwa manusia hanyalah bagian dari mesin kerja
penghasil barang, selain modal dan tanah.
Beda
halnya dengan jepang, yang Francis mengatakan bahwa negara ini memiliki
struktur sosila yang High trust. Dimana kendali bisnis dbangun berdasarkan
kepercayaan pada setiap pihak manapun baik itu kerabat atupun bukan kerabat.
Jaringan bisnis di jepang, pada umumnya selalu memberikan kendali penuh pada
setiap karyawannya untuk berinovasi, mereka tidak dibatasi oleh serangkaian
aturan yang kebanyakan mengekang mereka. Tegasnya, dijepang para pekerja
dianggap seorang manusia yang hidup dan mempunyai kreatifitas untuk melakukan
pekerjaannya.
Karena
struktur sosial dan karakteristik trust yang berbeda pada setiap masing-masing
negara, maka kebijakan publik yang diterapkan akan berbeda juga. Kebijakan yang
bersifat proteksionis mungkin akan cocok jika diterapkan di China, namun tidak
di Jepang, dan sebaliknya.
Namun
kesimpulan dari buku itu aku belum tau sih, soalnya baru mmbacanya bab 1 aja.
Jadi ya kita tunggu aja kalo misalkan bukunya udah tamat, garis besar apa yang
akan disampaikan fukuyama dalam bukunya kali ini.