misteri ketimpangan distribusi kosakata menulis dan berbicara


Entah kenapa sulit sekali rasanya untuk mengatakan sesuatu yang jujur, terkonstruk, dan rapih dalam sebuah tulisan. Padahal ketika berbicara dalam sebuah forum diskusi, aku selalu bisa untuk membuat pernyataan yang setidaknya yaa lugaslah dan dapat dimengerti minimal oleh disi sendiri. 



Namun kenyataan bahwa tulisan yang aku ketik selalu menghasilkan hal yang kadang tak mengerti arah idenya kemana, membuatku harus merenungkannya. Dengan kata lain, hasil berbicaraku aga mendingan dibandingkan dengan hasil tulisan yang aku buat. Dan hal ini seolah menjadi celaan bagi diriku sendiri. Pasalnya, kegiatan menulis dan berbicara sejatinya masing-masing mempunyai kesamaan, baik menulis ataupun berbicara keduanya sama sama dalam perihal penyampaian gagasan, namun ternyata meski punya kesamaan dalam hal itu, tidak serta merta menjadikan output dan kapasitas seseorang dalam berbicara dan menulis mesti sama persis. 

Dan kenapa ini bisa terjadi?

Setelah diteliti (widiih gaya amat diteliti : iya dong hehe), ternyata masalahnya ada pada prekteisis/practice. Kemampuan untuk menulis sebuah tulisan yang bagus, ternyata memerlukan pengalaman dan latihan yang secara praktis mesti terus menerus dilakukan. Wajar saja jikalau ability berbicara dengan menulis seseorang selalu timpang. Toh setiap saat dan dimanapun seseorang diharuskan untuk berbicara(berinteraksi) dengan oranglain, denang orang yang berbeda-beda karakter pula, dan hal ini secara alamiah menjadi sebuah latihan praktis dalam hal berbicara.

 Berbeda halnya dengan menulis, jarang sekali seseorang (aku) misalnya menyempatkan waktu dengan laptop atau apa saja misalnya untuk mengetik beberapa gagasan didalam kepala. Keinginan untuk menulis timbul ketika hanya ada tugas kuliah saja. Dilihat secara intensitas saja, berbicara dan menulis masih kalah jauh. Seperti sebuah pisau, mesti mempunyai material yang sama, namun jika hanya salahsatu pisau saja yang sering diasah, kualitas memotong dari kedua pisau tersebut tentu bakal berbeda.

Maka untuk mencapai sebuah tujuan dimana gagasan dan ide yang ada dikepala selaras, setidaknya bisa matching lah dan tidak menunjukkan adanya gejala ketimpangan dengan apa akan ditulis, setidaknya dari sisi praktis mestilah dipersesuaikan terlebih dahulu intensitasnya. Hal ini guna mengasah tulisan agar menjadi lebih tajam seperti halnya dengan berbicara. Artinya latihan menulis mestilah dipersering.

Namun apakah dengan berlatih menulis terus menerus saja sudah mencukupi?

Saya kira tidak, karena selain diperlukan latihan dalam menulis juga diperlukan untuk terus mempertebal jumlah halaman buku yang kita baca. Artinya tulisan kita akan menjadi lebih sempurna ketika otak kita dipenuhi oleh berbagai ide dari buku yang telah kita baca, semakin banyak dan variatif buku yang dibaca, hal ini semakin berguna dalam mempertajam analisis dalam tulisan. Karena tulisan yang kaya ide adalah tulisan yang kaya referensi, dan yang kaya referensi biasanya hanya, just only, hungkul didapat dari membaca banyak buku. Hasil dari membaca itulah yang kemudian menjadi topic yang bakal banyak dibahas dalam tulisan.

dengan banyaknya buku yang dibaca, maka akan semakin memudahkan untuk mengeluarkan gagasan yang akan dituang. Ketika latihan menulis dan kegiatan membaca dijadikan kegaitan rutinan. Beuh, insyaallah jadi penulis koran-koran daerah wae mah.

Oke, jadi dengan membaca buku referensi dan latihan bisa ya untuk menjadikan tulisan terkenal?

Hmm... Membaca adalah hal esensial dalam membangun sebuah konstruksi gagasan dalam menulis, namun ternyata tidaklah cukup dengan hanya dari buku referensi saja, untuk membuat tulisan yang sempurna. Artinya dalam tulisan, jika memang kita ingin lebih jauh dengan tulisan yaang disukai oleh publik, gagasan yang tertuang mesti tertata secara rapih dan di desain secara apik agar laku dibaca tidak hanya oleh diri kita melainkan oranglain. Ada seni yang mesti dimainkan dalam isi paragraf yang kita tuang.

Kalo kata orang mah percuma kalo isinya hamburger tapi bungkusnya pake daun pisang oge. Nah, maka memikirkan caranya agar tulisan itu indah dibaca ternyata ada kategori buku yang mesti kita perbanyak dalam membacanya selain dari buku referensi, yaitu buku yang berjenis sastra. Mix antara bahan bacaan dari buku referensi dan sastra ini, aku jamin insyaallah bakal membuat tulisan yang kita buat tidak kalah sekelasnya sama bang andrea hirata, widiih..

Maka, sebuah pesan yang aku amanatkan kepada diriku sendiri, yaitu: rajinlah membuat sebuah tulisan, meski hanya satu paragraph kecil dalam satu hari. Jangan sampai menina bobokan diri dengan alasan sibuk dan tak ada waktu dan sebagainya. Selain itu, rajinlah banyak membaca buku tidak hanya buku tentang pelajaran kuliah, tapi buku pengetahuan lain, buku sastra, novel, dan buku variatif lainnya. 

Adzie, Masadepanmu cerah nak :)

Regards, AjiPamungkas