Pembanding yang berarti sebuah kemunduran



 Jika sekilas, melihat kembali ke belakang pada hal-hal yang telah aku lakukan dan meng compare dengan apa yang sedan aku lakukan sekarang. Mungkin akan menjadi sedikit kebimbangan di hati. Apakah aku menjadi lebih baik dari kemarin? Jawabannya bisa ya dan tidak, namun lebih cenderung ke arah tidak. Aku merasa bahwa hal-hal dahulu yang aku lakukan dengan kesadaran penuh dan merupakan sebuah prestasi, tak lagi kulakukan sekarang. Seperti, untuk tetap belajar sampai jam setenagh 12 malam, time managing yang selalu bisa aku tepati dan money managing yang selalu saja surplus di akhir bulan. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri atas hal-hal yang telah aku lakukan dahulu kawan. Namun, seperti judul diatas, ini hanyalah sebagai pembanding antara aku yang dulu dan aku yang sekarang. 

Dahulu, entah kenapa prinsip itu selalu kupegang teguh itu selama 3 tahun kurang lebih selalu bisa ditepati, dan cenderung konsisten. Apa yang membuatnya selalu konsisten juga aku tak tahu. Faktor ibadah? Kurasa waktu itu aku kesadaranku belum sampai mengarah kesana. Aku masih terbilang kanak-kanak, dan ibadah adalah hal yang belum aku rasakan lazzah nya waktu itu, hanya sekedar rutinitas dan kewajiban yang mesti aku lakukan. Lalu apa? Ini yang menjadi pertanyaan kembali.

Dan jika menilik pada apa yang aku lakukan sekarang. Hal hal demikian sangatlah jauh dan cenderung bertolak belakang. Sekarang ini, aku seperti berubah 180 derajat dari apa yang aku lakukan dahulu. Semua hal yang semestinya aku kiatkan dan teruskan dahulu, malah sebaliknya, aku tinggalkan dan lupakan. Aku juga baru menyadari hal ini, betapa kacaunya melihatku sekarang. Prinsip-prinsip itu seperti hilang ditelan oleh sesuatu yang tak nampak dan secara tak sadar menyeretku menjadi sesuatu yang sama sekali bukan seperti aku yang sebelumnya. Jika saja aku yang dulu dan sekarang dipertemukan, keduanya mungkin tak kan saling mengenal, bahkan akan merasa asing. Hmmm…. Untuk sejenak aku mencoba memfokuskan dan menenangkan hati. Mengkontemplasikan faktor penyebab semua ini. Kupikirkan semua kemungkinan bisa menyebabkan aku berubah seperti ini. Lingkungankah? Atau pergaulan, atau kesibukan yang berbeda, ataukah kondisi? Atau ada suatu dosa yang memang membuatku menjadi seperti sekarang? Tidak ada yang mustahil dari semua kemungkinan itu, bahkan semua mempunyai probabilitasnya. Aku tidak menampik jika suasana, lingkungan, dan pergaulan ketika SMA itu berbeda jauh dengan sekarang.