Sebulan
sudah saya pantengi tivi, setiap hari saya cek pagi dan malam beritanya itu-itu
mulu aja. Bahkan selalu dijadikan headline berita alias berita utama. Tebak
coba apa beritanya apa? Ya kasus kopi bersianida Jessika. Aku gak habis fikir,
itu produser ato apalah istilahnya orang yang menangani terkait penayangan
berita emang di Indonesia udah kehabisan topic apa? Seolah insting jurnalistik
di Indonesia ini payah banget mengingat pilihan topic beritanya sangat tidak
variatif. Jika pun ada, biasanya hanya pada penayangan kasus pembunuhan,
penculikan, kecelakaan lalu lintas, dan berita sejenisnya yang kalian tahu lah the
kind of matter what topic about.
Aku jadi
penasaran kerjaan jurnalis Indonesia itu kaya apa. Kalo setau aku, jika baca-baca
novel yang menceritakan tentang penyelidikan suatu kasus kaya novelnya
Frederick Forsyth, insting jurnalis dan rasa keingintahuan terhadap suatu kasus
itu sangat mendarah daging. Bahkan sampai ikut dan terjun langsung ke lapangan,
dan tak jarang sampai membahayakan nyawa pulak. Itu hanya demi sebuah
informasi. Dan tentu nilai dari informasi yang didapatkan juga akan menjadi
sangat bernilai mengingat usaha yang didapatkannya juga susah. Kan kalo kaya
gini, bakal enak ke stasiun teve nya juga kan, ratingnya bakal ikutan naek ya.
Beda hal nya sama kasus yang hanya tinggal datang ke pengadilan, ato ke suatu
tempat yang dimana sudah ada tersangkanya, aparatnya, dan yang bersangkutan
dengan kasus. Cukup dengan datangi, wawancara ini itu, terus langsung
disiarkan. Udah beres. Tidak ada semangat jurnalistik sejati yang bisa
didapatkan dari prilaku demikian kawanku. Setiap media juga bisa
melakukan hal demikian, dan karena gampang ditiru oleh setiap media, ya maka
rating pada tayangan tersebut pun tidak akan telalu memuaskan. Mengingat media
saingan juga menyiarkan berita yang sama.
Yan aku
bikin ngenes lagi adalah ternyata berita hebat yang aku baca di web biasanya
selalu datang dari media-media asing, dan isinya pun tak berkutat di isu yang
sama. Bahkan sampai pada pemberitaan yang selalu luput terpikirkan, tapi sangat
penting untuk di ketahui oleh public. Misalnya tentang kasus HAM di papua, yang
memberitakan tentang hal itu adalah media asing “National Geographic” .
Selain itu sepengetahuan saya tak ada dari media di Indonesia yang mencoba
untuk memberitakan tentang HAM papua. Jika pun ada intensitasnya juga sedikit,
dan selalu dijadikan bahan selipan dalam berita, bukan sebagai berita utama.
Ini yang aku juga sedikit ganjal, kenapa masalah masalah yang berhubungan
dengan kepentingan public seperti energi, hutan, sawit, pemberitaannya kurang
komprehensif. Coba saja misalnya tentang sawit yang jelas-jelas faktanya bisa
kita ketahui, yaitu kebakaran hebat di Kalimantan. Ketika isu ini mencuat,
pemberitaannya hanya sebatas pada penyebab apa, pelakunya siapa, alasannya apa.
Tidak jauh dari 3 hal ini. mengapa orang yang mengatakan dirinya jurnalis tidak
coba untuk menggali lebih dalam. Mengusut secara tuntas profil tersangka, latar
belakangnya apa, bisa saja dari hal itu ada sesuatu yang bisa dikaitkan dengan
kasus yang sedang terjadi. Bahkan mungkin fakta-fakta yang lainnya yang tidak
terduga bisa terungkap, misalnya.
Oke back to
the topic, jadi intinya adalah mungkin saja tingkat kejurnalisan seorang jurnalis
diindonesia itu kurang jurnalis disbanding dengan diluar negeri, entah faktor
apa yang mendasarinya, yang jelas yang aku tangkap seperti itu. Udah sih itu
doing, intinya yang paling inti nulis ini ya kesel aja gitu dari januari sampe
mau September pemberitaannya Jessika ajaa mulu, kan kesel.