Ternyata James Tobin tak salah
ketika membuat teori tentang kesejahteraan social yang salahsatu dari
indikatornya merupakan kebebasan berekspresi. Di Negara maju, hak untuk
menyatakan pendapat bahkan sudah dilindungi oleh undang undang yang dibuat oleh
orang yang bahkan sering menjadi topik utama dalam berkespresi, kalau di
Indonesia kita sebut dengan DPR.
Mengapa tema
yang saya angkat kali ini tentang kebebasan berkekspresi. Ternyata ada
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari yang saya lakukan, atau setidaknya
sekarang. Sebagai orang dengan profil pelajar rasa kritis dan ingin mencoba
sesuatu yang baru adalah suatu kelumrahan bahkan kewajiban. Pada orang orang dengan prilaku kecenderungan
konservatif (memegang teguh apa yang telah ada sebelumnya) yang menurut kita
sudah tak sesuai dengan zaman dan perlu di koreksi, hati kita selalu gemas.
Namun, kadang untuk merubahnya atau bahkan sebatas mengemukakan pendapat atas
hal itu, kita selalu dihambat dan dikekang dengan orang-orang kolot yang
cenderung mempunyai pemikiran kolot. Mereka dengan kelebihan umur dan
pengalaman, selalu merasa yakin bahwa hal yang mereka pegangi itu adalah
sesuatu yang benar. Tak ada yang harus dirubah, karena menurut mereka perubahan
berarti menghancurkan apa yang mereka pegang teguh selama ini.
Saya tidak menampik jika hal yang mereka(orang
kolot) pegang itu benar di suatu masa di zaman dahulu. Namun tak lantas menjadikan
sesuatu itu benar di masa sekarang.
Konteks sosial selalu itu dinamis. Kalian ingat masa jaya dimana faham
Adam Smith menjadi primadona Negara-negara maju? Buktinya hanya bertahan dalam beberapa dekade
saja, sebelum J.M Keynes kemudian menelurkan teori baru pada tahun 1929 dalam
bukunya General Theory. Perubahan paradigmatis bukanlah sesuatu yang harus
dilawan. Tapi diterima dan di resepsi, karena setiap zaman itu selalu mempunyai
ciri khas dan sesuatu yang di kulturkannya masing-masing.
Nah ngomongin
soal perubahan, orang konservatif itu selalu cenderung anti perubahan, apalagi
membicarakannya. Karena kecenderungan itu pula tidak jarang mereka selalu
berlebihan dalam menanggapinya. Sampai-sampai rela membungkam segala persepsi
yang berpotensi bisa menyudutkan mereka—keyakinan mereka—. Sebagian dari mereka
bahkan sampai membuat rencana diam diam untuk menutup akses agar sesuatu yang
kami idamkan berubah itu tak mewujud dengan berbagai cara. Lebih tepatnya
dengan menyortir kebebasan berekspresi dan menghambat ruang untuk berdinamika
lebih.
Ulu hati ini
seperti ada yang sakit, ketika tahu bahwa ada sebagian dari hak-hak yang tak
bisa di akses lagi. Ketika petani hidup dengan cangkulnya, nelayan dengan kailnya, maka kaum intelektual
hidup dengan nalar kritis yang mengarah pada hal baru, dan hal baru tersebut akan
bisa tersampaikan bila melalui mediator berupa kebebasan berekspresi. Yah,
karena konservatif mereka tadi itu yang membuat segalanya kemudian menjadi
tertutup bagi kami. Mereka enggan berubah dan telah telanjur nyaman dengan
keadaan, sementara dunia terus berubah dan bergerak. Ketika ada kesalahan maka
sudah pasti ditujukan kepada kami, itulah bebalnya mereka. Padahal yang kami
inginkan bukanlah perubahan total radikal seperti yang mereka pikirkan. Kedatangan
kami hanya lah mencoba untuk menyesuaikan kembali bahwa apa yang mereka lakukan
itu harus sesuai dengan keselarasan zaman. Bukan merubah seutuhnya.
Maka bisa saya katakan
bahwa apa yang mereka pegang teguh, dan ideologi yang mereka cita-citakan
haruslah bisa meresepsi kultur dan kebiasaan yang sedang berlaku sekarang. Jika
zaman dahulu semangat kebangsaan itu ditunjukan dengan gerakan fisik, dar der
dor sana-sini. Tapi ketika perang sudah tak
ada dan dunia telah damai, apakah semangat kebangsaan itu masih harus
ditunjukan dengan kekerasan fisik sana-sini? Tentu tidak. Melainkan semangat
kebangsaan itu harus diresepsi kembali dan disesuaikan untuk kemudian
direfleksikan kedalam bentuk tindakan. Seperti menggerakkan roda perekonomian,
bersaing dalam hal penguasaan teknologi tinggi dll. Nah ini yang mereka tidak
fahami, kedatangan kita dengan teori baru bukanlah untuk merusak susunan yang
telah mereka bangun sebelumnya. Tapi lebih ke merefleksi kembali dan
menyadarkan mereka bahwa pemikiran mereka itu sudah kuno, dan harus segera ada
yang dirubah. Dan pada hakikatnya kita datang bukanlah untuk merubah sebuah
prinsip atau hal-hal fundamental lainnya. Melainkan hanya melakukan penyesuaian
belaka. Maka kalian orang kolot, janganlah gagu menerima kenyataan ini. Kita
datang untuk memperbaiki, bukan untuk merubah apalagi mengacaukan!