Hidup kayak roda ternyata emang
bener ya, kadang diatas kadang dibawah atau kadang juga berada
ditengah-tengahnya: tertarik antara atas dan bawah.
Hidup gue yang kemaren gue rasain cool cool aja, disukai beberapa cewe, dapet prestise dari lingkaran
temen, adek yang tiba-tiba jadi baik hati, dan presentasi keren gue yang
langsung dapet pujian dari dosen adalah linangan hidup gue ketika berada
diatas, tapi itu gak bertahan lama. Pada akhirnya gue juga bakal ngerasain yang
namanya hidup di keadaan titik terendah, temen deket gue yang musuhin gue
karena cewe yang disukainya suka ama gue, kenyataan pahit duit jajan gue yang
bokap potong karena uangnya dia dapetin dipake buat gue ngeroko, hutang
sana-sini, sama tugas yang bejibun belum gue selesein; karena laptop gue yang
digadein buat nutupin semua defisit finansial yang ujung2nya buat gue stress!
Namun gue gak secengeng itu, gue
hidup dan dibesarkan dilingkungan yang
keras dimana orang yang gak punya spirit dikucilkan dan hanya orang yang punya
nyali bisa bertahan. Apalagi gue dilahirin dari struktur DNA dua manusia yang
hebat hebat, Bapa gue yang pendiam dan pekerja keras, ia yang ngajarin gue arti
bahwa idup itu gak semudah bacotan Mario
teguh, bahwa hidup hanya hanya akan berhasil apabila orang-orang mau berusaha
sekuat tenaga, apa artinya dari tuhan menciptakan dua lengan dan satu mulut?
Nasihat yang akan gue kenang seumur hidup dan dijadiin filosofi gue. Ibu yang
mempunyai tipikal wanita keibuan kebanyakan, namun satu yang buat gue kagum
dengan beliau sifat cerewetnya dan tak mau tahunya tentang anaknya yang
berakhlaq jauh dari tuntunan baginda Nabi,tak mau peduli dan bodo amat gue
juara nasional ato rangking gue paling anjlok disekolah pun jika akhlaq gue gak
beres, ia sikat abis abisan dengan dalil kitap pamungkasnya ; Akhlaqul Banin,
kitap seribu satu ajaran tentang bagaimana bersikap baik sesuai ajaran Islam.
Satu yang gue inget banget dari ibu gue ; kesalahan mendasar yang dilakukan
kebanyakan manusia adalah menganggap
perbedaan antara manusia dan hewan didasarkan kemampuan berfikir, jika
begitu disebut apakah orang gila? Perbedaan kita dengan hewan terletak pada
kemampuan untuk bersikap baik, afeksi dan toleransi kita terhadap yang lain,
tidak lain tidak bukan Nak.
Ah, Ibu gue memang bisa menyihir gue
setiap denger kata katanya, walaupun Beliau tamatan SD, namun perkataannya bak
tuah Plato kepada muridnya Aristoteles, seperti buaian Hawa kepada Adam, Gue
hanyut dan selalu menekuri dalam-dalam perkataannya jika Ibu sedang berbicara.
Nah dua manusia ini yang pada akhirnya membentuk Gue sedemikian rupa agar bisa
survive dilingkungan keras, sifat Bapa dengan sifat pekerja yang tak banyak
cincong dan Ibu yang menekankan Gue dari sisi Attitude. Seperti ada invisible power jika inget kedua orang yang begitu super menari-nari
dibenak Gue.
terimakasih pada kedua sosok yang tak pernah ingin dipamrihi jasanya :)
Mirip" Raditya dika... hahaha
BalasHapusTulisanna kekinian pisan . . hevat lah
BalasHapusnya heeh atuh haha follow nyak blog uing ikuti perkembangannya hehehe
BalasHapus