teori move on, meski masih sekedar hipotesis




Percayalah, butuh lebih dari sekedar energi untuk pindah. Urusannya ternyata kompleks, terutama untuk perasaan yang menjadi campur aduk dan bagaimana cara untuk menyelesaikannya seraya menyelaraskan diri.
 Semalam aku dan teman-teman kosku pindah rumah, sebenarnya rencana ini berawal dari gurauan temanku yang mengeluh tentang sumpeknya ruangan kos, kemudian salahsatu dari mereka berinisiatif untuk menyewa sebuah rumah. Ide itu tentu disambut antusias oleh kami. Namun setelah semua persiapan beres dan sampai akhirnya kini aku bisa duduk di tempat yang lebih nyaman, perasaan mengganjal itu muncul. Entah kenapa ada sesuatu yang menurutku diluar kebiasaan dan sangat tak mengenakan bagiku. Setelah kuselidiki ternyata ada kaitannya tentang tempat yang dulu kutempati.
 Berbicara perasaan tentang cara membiasakan diri dilingkungan yang baru. Jujur, penempatan kata ‘nyaman’ untuk sesuatu yang baru itu butuh waktu, diperlukan semacam resetting ulang agar hal-hal di masalalu tak kembali bercampur aduk dengan apa yang akan terjadi di tempat yang pengalaman tak pernah menjelajah. Nyatanya semegah apapun tempat itu, hal yang pertama terpikir di benakku adalah rasa asing. Asing, karena  sebelum pindah segala hal nya telah terjamah sehingga reaksi yang kuberikan untuk mengatasinya pun telah mumpuni. Dan kini ditempat yang kutinggali, segala memori tentang menyimpan sepatu di rak sebelah kamar, mandi dengan air yang terlebih dahulu harus ditampung di ember, berbagi diruangan serba sempit dengan teman-teman adalah aktivitas yang harus kuganti. Tempat baru sama bermaknanya dengan aktivitas baru.
Aku sering sendiri tertawa merasakan fenomena yang demikian ini, bagiku urusan pindah adalah hal yang lumrah dan biasa dilakukan oleh manusia, bahkan sudah menjadi keteraturan alam. Toh memang manusia memiliki sifat dinamis yang tak pernah puas. Namun setelah aku merasakannya sendiri, yang kurasakan adalah hal lain. Penyesuaian terhadap hal-hal baru untuk lebih terbiasa pun ternyata dibutuhkan teknik teknik tertentu. Jika di tempat yang dulu hanya diperlukan dua langkah, kini beberapa langkah tambahan agar bisa kekamar mandi  untuk menuntaskan panggilan alam. Semuana begitu berbeda dan dibutuhkan penyesuaian.
Dari fenomena ini, aku bisa menarik sebuah teori tentang move on. Mengapa kebanyakan orang selalu risih dengan kata move on dan dibuat galau karenanya. Ya, karena yang namanya hati memang sulit diprediksi. Persis seperti kasus yang kini kualami,  ternyata its to hard buat ngehapus semua kenangan bersama seseorang yang di satu rentang waktu dimasalalu pernah bersama kita. Perlu semacam energi pendorong dari dalam diri dan kesadaran yang dibangun oleh mindset yang kuat bahwa kita tak butuh lagi ‘dia’. Mungkin itu aja sih.