setidaknya kita peka!




Sering dibenak kita terlintas pelbagai petanyaan gerutuan yang mengganjal urat terkait kampus, sesuatu yang sepertinya mengganggu benak kita sebagai mahasiswa. Dan pikiran tentang ini sebenarnya akan hinggap disetiap benak mahasiswa ketika mereka berangkat dan berpapah ria didalam digedung kuliah. Pikiran yang merupakan buah dari pertanyaan yang bersifat  masal dan seragam. Pertanyaannya selalu sama : seperti ada sesuatu yang salah.
Sebenarnya di dalam manusia tersimpan triliyunan memori yang menurut Sigmund Fred terbagai kedalam dua kategori besar, yaitu otak yang berada di alam sadar (consious thought) dan bawah sadar(unuconsious). Otak bawa sadar adalah kebalikan dari tak sadar, didalamnya tersimpan akumulasi informasi kejadian yang kita alami dan terlupakan atau seperti terlupakan. Karena rangakaian informasi tersebut memang dipaksa oleh otak agar dilupakan atau dengan sendirinya dilupakan yang kemudian datang dan tergambar dalam mimpi mimpi yang kita alami. Sedangkan untuk otak sadar, adalah serangkaian informasi yang penting dan menurut otak perlu diingat akan masuk kewilayah otak yang sewaktu waktu ketika akan diperlukan dapat dikeluarkan kembali menjadi rangkaian informasi. Namun lebih jauh dari itu didalam otak sadar juga terkumpul berbagai kumpulan ide, nilai, etika dan estetika yang terkadang jika kita membutuhkannya akan sukar dimunculkan, kecuali ada pemicu dari luar seperti hal-hal yang berkaitan dengan iniformasi otak. Dan ini adalah situasi yang kita alami. Serangkaian kegiatan kebijakan yang ada dikampus kita ada yang mengganggu pikiran kita, itu bukan berarti halusinasi otak kita belaka. Tapi arti bahwa informasi yang dimiliki otak kita sinkron dengan kejadian yang kita alami, tinggal kita pintar memilah dan merumuskannya apakah hal ini  memang sesuatu yang baik atau sebaliknya? Apakah informasi yang datang dari luar itu sesuai dengan nilai, estetika yang berlaku dan memainkan perannya diotak kita? Atau apa yang sebaiknya kita lakukan dengan kejadian ini? Respon kita misalnya.
Informasi otak terkadang memberi jawaban yang berbeda pada setiap individu, karena pengalaman dan latar berbeda manusia menjadikannya informasi itu sebagai nalar dan pedoman deduktif dengan  ‘apa yang selanjutnya harus dilakukan’. Namun jika kita bijak mengembalikannya kepada hukum dan aturan baku dan estetik, maka jelas tindakan yang kita ambil  adalah sebuah gerakan nyata dan masal atas jawaban pertanyaan kita tadi. Nalar gerak yang pertama kita harus bangun
 Setidaknya kita tidak menjadi mahasiswa yang hanya duduk diam bertopang dagu untuk hal ini. J.

Adzie Ahmad F