Sering dibenak kita terlintas pelbagai
petanyaan gerutuan yang mengganjal urat terkait kampus, sesuatu yang sepertinya
mengganggu benak kita sebagai mahasiswa. Dan pikiran tentang ini sebenarnya
akan hinggap disetiap benak mahasiswa ketika mereka berangkat dan berpapah ria
didalam digedung kuliah. Pikiran yang merupakan buah dari pertanyaan yang
bersifat masal dan seragam. Pertanyaannya
selalu sama : seperti ada sesuatu yang salah.
Sebenarnya di dalam manusia tersimpan
triliyunan memori yang menurut Sigmund Fred terbagai kedalam dua kategori besar,
yaitu otak yang berada di alam sadar (consious
thought) dan bawah sadar(unuconsious).
Otak bawa sadar adalah kebalikan dari tak sadar, didalamnya tersimpan akumulasi
informasi kejadian yang kita alami dan terlupakan atau seperti terlupakan.
Karena rangakaian informasi tersebut memang dipaksa oleh otak agar dilupakan
atau dengan sendirinya dilupakan yang kemudian datang dan tergambar dalam mimpi
mimpi yang kita alami. Sedangkan untuk otak sadar, adalah serangkaian informasi
yang penting dan menurut otak perlu diingat akan masuk kewilayah otak yang
sewaktu waktu ketika akan diperlukan dapat dikeluarkan kembali menjadi
rangkaian informasi. Namun lebih jauh dari itu didalam otak sadar juga
terkumpul berbagai kumpulan ide, nilai, etika dan estetika yang terkadang jika
kita membutuhkannya akan sukar dimunculkan, kecuali ada pemicu dari luar
seperti hal-hal yang berkaitan dengan iniformasi otak. Dan ini adalah situasi
yang kita alami. Serangkaian kegiatan kebijakan yang ada dikampus kita ada yang
mengganggu pikiran kita, itu bukan berarti halusinasi otak kita belaka. Tapi
arti bahwa informasi yang dimiliki otak kita sinkron dengan kejadian yang kita
alami, tinggal kita pintar memilah dan merumuskannya apakah hal ini memang sesuatu yang baik atau sebaliknya? Apakah
informasi yang datang dari luar itu sesuai dengan nilai, estetika yang berlaku
dan memainkan perannya diotak kita? Atau apa yang sebaiknya kita lakukan dengan
kejadian ini? Respon kita misalnya.
Informasi otak
terkadang memberi jawaban yang berbeda pada setiap individu, karena pengalaman
dan latar berbeda manusia menjadikannya informasi itu sebagai nalar dan pedoman
deduktif dengan ‘apa yang selanjutnya harus dilakukan’. Namun jika kita bijak
mengembalikannya kepada hukum dan aturan baku dan estetik, maka jelas tindakan
yang kita ambil adalah sebuah gerakan
nyata dan masal atas jawaban pertanyaan kita tadi. Nalar gerak yang pertama
kita harus bangun
Setidaknya kita tidak menjadi mahasiswa yang
hanya duduk diam bertopang dagu untuk hal ini. J.
Adzie
Ahmad F