setidaknya, engkau pergi dan berlalu!

sebuah cerpen

Jika awan-awan adalah segerombolan mahluk langit yang diternak oleh terpaan angin. Maka, sekarang adalah waktu tepat ketika mereka sedang dikandangi karena suasana langit yang cerah. Suara kemayu hewan herbivora kecil dengan nada notasi yang tetap, bernyanyi, atau mungkin sekedar berteriak sama-sama merasakan musim pancaroba, mencoba menerka kegiatan musiman mereka. Pohon mangga didepan menunjukan hal itu, pantulan bayangan yang hanya meninggalkan sedikit jejak tetapi mempunyai warna bayangan yang kuat menunjukan bahwa sekarang hari berada dalam puncaknya
. Aku disini bertransformasi menjadi semacam hewan pengerat yang berhibernasi dimusim panas, mengikat diri dan duduk bertemankan sepi diteras rumah dengan hiasan jalan yang memanjang memantulkan efek fatamorgananya diatas aspal, seraya mengipas-ngipasi badan dengan buku yang kupegang. Hari ini panas begitu menyengat, meluruhkan semangat untuk beraktifitas diluar. Kulihat thermostat yang menggantung didalam ruangan menunjukan angka 35 celcius. Gila, sejak kapan jakarta tetanggaan sama neraka? Meskipun hanya bertempel kaos oblong dan celana singlet pendek, sirkulasi udara masih megap megap mengaliri pori pori tubuh. Rambutku yang kupotong klimis sebahu berantakan karena ulah tangan yang berusaha meredakan panas menyeka keringat didahi. Pigmen kulit berubah menjadi putih kemerahan akibat serangan yang dilancarkan sinar ultraviolet. ya Tuhan, setelah kucoba baca-baca di internet mobile ternyata efek penipisan ozon yang menyebabkan ini semua, sehingga sinar berpenyakit yang biasanya ditempa oleh awan kini hanya tembus setembus api menyentuh kertas. Sebuah lubang tak terlihat menganga diatas permukaan awan sana. Sekedar iseng aku sedikit tergerak untuk berjalan keluar hanya sejarak pandang agar aku bisa melihat langit yang berada diatas kepalaku menuntaskan penasaran melihat fenomena itu. Kudongakan kepalaku dan kulihat kristal cahaya yang berwarna putih berpendar kesegala arah mengikuti setiap gerakan mata, sedikit pusing memang, tapi sedikit kupaksakan demi melihat lubang diangkasa yang mudah-mudahan secara ajaib tiba tiba terlihat. Mataku menyipit seiring semakin banyaknya cahaya yang memasuki saluran retina, kugunakan sebelah tanganku sebagai tudung pelindung. Maka menjelmalah aku menjadi seseorang yang mencari-cari benda tak kasat. Benda yang susuna atomnya  terdiri dari molekul triatomic dan hanya bisa dilihat menggunakan alat bantu khusus. Entahlah mungkin penipisan ozon juga berpengaruh terhadap fungsi otak, sehingga membuatku sedikit gila. Sementara selama beberapa menit kulakukan kegiatan itu, munculah dibalik pagar berwarna kuning dimuka jalan seseorang…astaga, drakula, disiang bolong pula. Apa-apaan dunia ini, apakah menipis lapisan ozon berarti turut mengurangi kekuatan matahari yang konon dapat melumpuhkan drakula sampai gosong. Ia tersenyum meringis kepadaku kepanasan menunggu dan mengharapkan reaksiku. Beberapa saat hanya geming yang menyahut.
            “Oy, malah bengong. Bukain dong, panas nih!”
            Aku hanya celingukan melihat ia yang berdiri didepan rumah, “lu mo ngapain kerumah gua?” tanyaku heran.
            “Yaelah elu, buka dulu makanya”
            “Masuk aja, gak dikunci.”
####
“Eh lu ngapain tadi pas gue kesini liat-liat kelangit?” Ergi sekarang sedang sibuk merapikan dirinya dari debu jalanan. Kami duduk dikursi luar setelah memutuskan karena udara didalam cukup menyesakkan.
“Lagi liat ozon,” sebuah jawaban bodoh memang. Tapi melihat lawan bicaranya adalah sesama hewan pengerat sepertiku yang kesehariannya memakan kardus bekas, kuanggap itu jawaban logis.
“Nyokap lu pada kemana? Ko sepi.”
“Ada didalem, lu mau gua ambilin air [khmmm] comberan?” Ergi mengerutkan wajahnya yang menatapku dan berangsur berubah menjadi tawaan ringan.“Haha, iya. Pake es batu, panas soalnya. Dan… mungkin sedikit ciuman dari putri keong.” Aku hanya mendelik, kulihat dari larik mataku ia terkekeh saat aku beranjak meninggalkannya.
“Jadi…’ tanganku menyajikan jus jeruk yang ditaruh sekenanya dimeja dan menghempaskan berat tubuhku pada gravitasi lekukan kursi yang dijadikan pijakan mendarat. Mataku menatap malas meski dilubuk hati aku selalu senang kepada lelaki ini, ia selalu bisa menghiburku dengan candaan ringan apalagi diwaktu senggang seperti ini. Mata Ergi yang berbinat-binar menatapku. “Gue punya kabar baik buat lo” kata Ergi sudah tau arah pertanyaanku. Sedikit kukerucutkan satu alis kanan menggenapinya. Ia hanya tersenyum kuda, butuh beberapa saat untuk Ergi mengutarakan maksudnya.
“Bulan depan, gue merit”
Ergi adalah satu-satunya teman baik yang kukenal dari zaman pra kambrium sampai zaman cretaceus. Yang kuingat adalah kami sudah sangat lama saling kenal bahkan sampai lupa awal mulanya. Dulu kami setiap hari selalu menghabiskan waktu bersama-sama seusai sekolah. Sehingga baik ibuku maupun ibu argi sudah menganggap kami sebagai anak mereka. Rumah Argi adalah rumah kedua setelah rumah yang kutempati bersama orangtua.  Jadi sudah sewajarnya aku tahu tabiat dan sifat dari yang mengemuka sampai yang tidak banyak diketahui orang. Aku mengenal Argi sebaik mengenal Ibuku sendiri. Dan dari sifatnya yang paling menonjol adalah bentuk halus sebuah kemunafikan. Ia pembual yang handal ketika mengerjaiku, namun sekaligus yang orang paling jujur yang pernah kutemui. Seribu satu jenis mimik muka yang mengekspresikan maksud terselubung semuanya aku tahu, termasuk yang sekarang ia lakukan. Tinggal menunggu waktu sampai ia berkelakar dan tertawa karena telah mengerjaiku.
“Oh,” kataku kalem menanggapinya dengan bodoh
“Aku serius,” dia menatapku dengan tatapan yakin
Kuangkat tubuhku perlahan dari dekapan kursi dan dengan tingkat kecondongan tubuh yang bisa membuatku lebih dekat untuk menatapnya lekat,“sori gi, tapi sekarang gue lagi males becandaan ama lo.” Kuhempaskan lagi tubuku digumpalan lekukan kursi.
“Ya, gue gak becanda. Gue serius,” ia membalikan tasnya yang disampir dibelakang mengambil sesuatu yang membuatku merinding setengah mati. “Gue sengaja datang kesini buat ngasiin surat undangan ini, tanpa make perantara kurir. Khusus hanya buat sahabat setia gue.” Ia menatapku, namun kami tak berpandang temu karena aku lebih terpaku pada kertas berlapis plastik yang ia sodorkan padaku. Aku menatapnya. Sederetan pertanyaan menggumpal tiba-tiba siap ditembakkan, namun aku coba menahan untuk menarik pelatuk. Berharap bahwa ini hanya kelakarnya seperti biasa. Karena aku yakin untuk sesuatu yang seserius ‘merit’ pasti hanya sebuah candaan. Tapi tetap saja, tatapan mata itu sama bermaknanya seperti ketika aku menceritakan kepadanya sesuatu yang menurutku hanya boleh diketahui oleh kertas diariku, tatapan itu yang telah aku kenal sejak buaian, tidak mengandung bias munafik seperti biasa apapun dan sangat jelas sejelas matahari disiang hari. Ia sedang sangat serius. Darahku menggelegak dari dalam, jika memang benar, perasaan apa yang harus aku tunjukkan. Senang atau sedih? Sejak kapan dia deket sama cewe selain gue. Dan kenapa gue mendadak sedih.
Kucoba menetralisir keadaan hatiku yang tak tentu, “kasihan, wanitanya bernasib sial.” Gumamku. Ergi hanya menatap sumringah. Aku membolak-balik kertas yang berisi dua nama dari marga yang berbeda yang salahsatunya telah aku kenal, sedang yang satunya lagi… Bintang Lestari.
Bukan namaku
Beberapa saat yang dulu aku duduk ditempat yang sama persis dengan suasana dan orang sama. Bercengkrama, diselimuti hangat, dan berbicara sekenanya tanpa menakar terlebih dahulu obrolan yang akan dibicarakan. Bukan sepasang kekasih memang, tapi dengan judul sahabat dan isi cerita yang tak lebih dari orang yang dimabuk cinta. Begitu lama perasaan itu mengaduk didalam diriku. Namun kini, semua itu lepas begitu saja bagai diterpa angin, diruntuh hujan, dengan memakan korban diriku sendiri. Ada perasaan benci yang hinggap mengetuk diriku kemudian untuk segera mungkin mengusirnya keluar, mencaci makinya, batapa bodohnya ia meminang wanita sialan yang jelas-jelas ada wanita yang lebih mengerti dirinya, belasan tahun bersama, mengetahui seluk beluk sulit dirinya. Namun yang terjadi…
Kusunggingkan senyumku lagi
‘Gi, selamat ya’ kata-kata itu terucap begitu saja, tanpa izin dariku sebelumnya. Hatiku menetralisir. Lalu ia tersenyum mengangguk dan memberikan salam tanda pamit. Hanya semudah itu saja untuk ia menggenapi jutaan perasaan yang membawa haru. Sisanya, kami perlu menghadapi hari-hari seperti biasa. Dan aku? kembali mengipasi tubuhku yang kepanasan.