Kadang untuk bisa menangis seseorang tak perlu mengorbankan airmata agar oranglain bersimpati. Kita hidup dialam yang masalah adalah sebuah keniscayaan semesta. Namun, seberapa banyak dan seberapa besar masalah itu datang. Kita tak pernah tahu, dan tak pernah diberi sedikit pun bocoran oleh sang pencipta. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri sebelum masalah itu datang atau kalau kata pepatah sedia payung sebelum hujan.
Oh iya, kata siapa tuhan tak pernah memberikan bocoran? Kenapa kita harus membawa payung jika cuaca diluar cerah dan tak berawan? Bahkan badan meteorologi dengan segenap kecanggihan teknologi dan ilmu cuaca yang mumpuni meyakinkan diri bahwa probabilitas untuk hujan sangatlah kecil, bahkan sampai taraf mustahil, misalnya. Sia-sia saja kita bawa payung sedemikian rupa. Who knows?
Kita hidup di alam yang penuh rahasia, dengan teka teki yang bertebaran di alam maha luas. Dan manusia hanyalah setitik benda berukuran quantum jika dilihat secara keseluruhan. Apa yang menyebabkan manusia berani sekali untuk mendahului takdir? Dengan menetapkan klaim sedemikian rupa yakinnya. Atau apakah sebenarnya mereka sombong? Sampai tak sadar bahwa tak ada yang bisa disombongkan selain kesombongan itu sendiri.
Kita hidup di alam yang penuh rahasia, dengan teka teki yang bertebaran di alam maha luas. Dan manusia hanyalah setitik benda berukuran quantum jika dilihat secara keseluruhan. Apa yang menyebabkan manusia berani sekali untuk mendahului takdir? Dengan menetapkan klaim sedemikian rupa yakinnya. Atau apakah sebenarnya mereka sombong? Sampai tak sadar bahwa tak ada yang bisa disombongkan selain kesombongan itu sendiri.
Jika kata Einstein sesuatu yang tak terbatas itu ada dua hal, universe dan kebodohan. Maka, kutambahkan menjadi tiga, yaitu: Ego.
Ego selalu hadir dimana pun manusia berangkat, bahkan untuk di se-awal rencana. Ambisi terselubung yang bermain di bagian bawah sadar. Bahkan 'masalah' yang menggenapi pun tak luput dari genggaman ego. Dengan memandang hidup ini tak adil, bersikukuh bahwa orang lain memiliki nasib yang baik dan sebagian lainnya berbeda. Keadilan sebenarnya hinggap dari ketidakadilan jika kita berfikir bahwa:
hidup ini sebenarnya adil karena semua orang pernah merasakan ketidakadilan.
Jadi 'masalah' sebenarnya hanyalah permainan tarik ulurnya nasib agar semua orang mampu merasakan keadilan, pada hakikatnya. Seperti pergantian siang dan malam, kita tak akan pernah mengetahui indahnya malam tanpa mengetahui teriknya siang, atau cerahnya siang tanpa mengetahui gelapnya malam. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan yang namanya hidup. Mungkin sedikit egonya saja yang perlu di perbaiki.